usianya belum genap 10tahun. tapi Ia telah banyak mengalami dilema hidup mendasar yang mungkin pernah dialami oleh orang sebagian.
Nanda, lelaki bocah kecil, sudah piatu semenjak lahir. Ia tak pernah kenal bagaimana sosok Ibunda terkasihnya, yang rela menukarkan nyawa untuk memperlihatkannya dunia.
“Ayah, kenapa aku tidak memiliki seorang Ibu?” tanya polosnya satu ketika.
sang Ayah, setengah menghela dan menahan nafas mencoba menjelaskan “Nanda emang ga memiliki Ibu seperti teman-teman Nanda, dan Nanda ga pernah mengenalnya. tapi Nanda ada disini sekarang itu bukti bahwa Tuhan menyayangi Ibu dan Nanda dan Tuhan juga ga ingin jauh dari kalian. Tuhan ga rela kehilangan kalian berdua, dan pada akhirnya Ibu mu lah yang mengalah untuk menemani Tuhan. ”
“Ibu orang yang jahat Yah” sang Ayah tersenyum tenang. “Kenapa kau bilang begitu Nak?”
“Ibu mengalah demi aku, tapi Ibu engga pernah mau nganter aku ke sekolah, aku ingin diantar Yah, seperti teman-temanku.Ibu juga engga pernah nyuapin aku, Ibu juga ga pernah ngajak main robot-robotan”.
mendengar pernyataan polos anaknya, Ayah hanya tersenyum kecil.
“Ibu mu Nak, orang yang sangat baik.”
“kalo Ibu orang yang baik, coba Ayah ceritakan kebaikannya?”
“Ibu emang ga pernah nganter Nanda ke sekolah, engga pernah nyuapin Nanda, dan juga engga pernah ngajak main robot-robotan, tapi Nanda tahu ga?, waktu Nanda belum lahir, Ibu udah menyayangi Nanda. Ibu menjaga Nanda, Ibu ngajak Nanda kemana aja Ibu pergi. Apa yang Ibu makan, itu dibagi sama Nanda. Mainan-mainan yang dimainin Ibu pun mainnya bareng Nanda.”
“Tapi Aku ga inget yah”.
“Ya, Nanda emang ga bakal inget, oleh karena itu Ayah ceritain ke Nanda. Biar kamu tau Ibu kamu itu Ibu yang baik. sama seperti Ibu teman-teman mu.”
“hm .. tapi kalo Ibu orang baik, kenapa ga biarin Nanda aja yang nemenin Tuhan yah?”
Ayah kembali tersenyum mendapat pertanyaan kritis dari darah dagingnya.
“Ibu mu orang yang baik, Ia mengalah supaya Nanda tahu, gimana indahnya dunia ini, gimana senengnya main sama temen-temen setelah selama 9 bulan cuma main sama Ibu. gimana enaknya makanan yang ada didunia ini, setelah selama 9 bulan Nanda cuma ngerasain makanan yang dimakan sama Ibu.”
“jadi Ibu orang yang baik ya Yah?”
“Iya Nak, Ibu mu orang yang sangat baik, oleh karena itu jangan sia-siakan kesempatan yang dikasih Ibu ya ..”
“Iya Ayah.”
kantuk menghampiri mata lelah Nanda, dan setelah beberapa senandung kecil, Nanda pun tertidur dalam gendongan Ayah.
—
Senin siang, mentari bersinar tanpa rasa malu, membuat semua orang malas untuk menggerakan persendian.
tapi tidak dengan Nanda, sembari bersenandung lagu-lagu yang dinyanyikan ketika upacara tadi pagi, Ia menelusuri jalan, gang demi gang, melompati selokan, beriring dengan sampah-sampah yang mengalir bersama sungai disebelahnya.
Nanda memang bukan orang yang benar-benar beruntung. Ayahnya hanya seorang tukang bangunan, yang terpaksa berhenti melanjutkan setelah tamat SD. Namun, hati besar sang Ayah yang selalu mengingatkan Nanda untuk terus sekolah, dan tidak mengulangi kesalahan yang dilakukannya.
Nanda termasuk anak yang briliant dikelasnya. Ia selalu masuk 5 besar, setiap tahun, selama sekolah Ia selalu mendapat beasiswa karena kemampuannya tersebut, bukan karena surat keterangan tidak mampu, oleh karena itu Ia mampu masuk sekolah yang bisa dibilang tergolong elit dan unggulan.
Nanda juga anak yang kritis namun periang, Ia selalu menyenangi hal-hal yang baru, yang belum pernah Ia temukan sebelumnya. Ia tidak pernah segan membantu, dan bertanya apabila ada hal yang tidak diketahuinya.
–
tak terasa, 2 gang lagi, Nanda sampai kerumahnya. Ia tak memperhatikan sebuah bendera kuning, yang layu dan malu berkibar ditiang listrik yang dilewatinya. Ia masih asik saja berjalan, sembari ditemani tas ransel yang bergoyang seakan tau sifat riang Nanda.
Ia heran, melihat kerumunan orang didepan rumahnya. yang wanita mengenakan mukena, pria mengenakan peci.
semakin langkahnya mendekati rumah, semakin orang memperhatikannya. Nanda, mulai khawatir. Apalagi Ia baru sadar bendera kuning dengan batang bambu seadanya terikat ditiang kayu penyangga rumahnya.
belum sampai ke dalam, Joko, teman Ayah Nanda, menghampiri sembari memeluk Nanda. Nanda heran.
“kenapa Om? ada apa ini rame-rame?”
“…” Joko terdiam, tak mampu Ia menahan air mata yang banjir. Joko mendekatkan mulutnya ketelingan Nanda dan hanya berbisik.
“menangislah Nak, menangislah untuk dunia mu yang semakin membesar ini ..”